Entri Populer

Selasa, 10 Agustus 2010

IBU

IBU

kilasan waktu memagut
berdiri pada kanal tertinggi
menguak kisi-kisi mega bertaut
tiada henti tentangmu pertiwi

dulu engkau adalah lautan biru menggebu
di dalamnya terkandung beragam budaya dan harta
ada milikku satu di sana
lalu semuanya melebur dalam gempita janji untuk negeri

dulu bila kupandang saujana
maka terbersit betapa kaya dirimu
dalam kalungan mutiara satwa
dilimpahi rasa patriotisme yang menggebu
sebelum semuanya kelu

sekarang menatapmu
tak ubahnya seperti ibu yang kuyu
menahan pilu memendam geram
terkeram dalam emosi kasih tiada batas

sekarang memandangmu
seperti menapaki setiap jejak-jejak wajah ibu
setiap goretan di negerimu adalah keluhan
kebisuanmu telah membungkam alam
kediamanmu kerap menutup jalan
bahkan jalan untuk membangunkanmu
Ibu...


(10 Oktober 2010, Amoruli)

Rabu, 04 Agustus 2010

Tentang mu

Kadang aku membayangkan dirimu
Berdiri di sana menungguku
memandangku dengan iba
merentangkan tangan dalam kekhilafanku

Suara lirih kerap mengusik
mengatupkan teriak ribuan godam
menentang semua dalam kesombongan
bagai batu tak bertahta tak bernyawa

Kerap aku berpikir nyinyir
mengibas tali yang mengikat norma
mengalpa sunyi yang ganas
meraut kitab yang tak kenal waktu

sebab merengkuhmu adalah dosa
dipelukmu adalah surga
menjauhimu jadikanku nista

kadang aku hanya berpikir
keberadaanmu, pemikiranmu
semua tentangmu adalah
sama dengan mengenal dunia

Meski mungkin terlalu luas
mesti pasti terselami
tetapi karenamu
karena namamu
semuanya indah


Agustus, Amoruli, 2010
HUT ke-65 RI tinggal beberapa hari lagi. Di beberapa tempat terlihat orang-orang dihinggapi demam HUT RI. Perayaan kemerdekaan RI telah menjadi salah satu moment untuk ajang jualan yang lumayan menguntungkan bagi seorang pedagang bendera. Banyak penjual bendera mulai menjajakan bendera merah putih. Selain itu, di beberapa RT/ RW bahkan sudah mulai memasang spanduk dan slogan-slogan yang menuliskan selamat HUT RI yang ke- 65 tanpa memedulikan kesalahan penulisan tersebut yang seharusnya selamat HUT ke-65 RI.

Semuanya berjalan seperti biasa. Seperti perayaan HUT RI pada umumnya. Disambut, dirayakan, kemudian akan berlalu dengan sendirinya. Tak berbekas dan tak menimbulkan perbedaan sedikit pun setiap tahunnya.

Perayaan itu telah menjadi sebuah moment kebiasaan yang tak bernyawa. Maklumlah yang ulang tahun bukan orang. Yang ulang tahun bukan Siti Jubaidah atau Ujang atau Alexander atau Elisabeth yang punya hati dan punya mimpi tentang perayaan ulang tahunnya. Kalau yang merayakannya adalah person to person mungkin akan berbeda karena "orang" pasti memiliki harapan dan makna tersendiri untuk setiap ulang tahunnya. Tak ada orang yang merayakan ulang tahunnya tanpa keinginan untuk ada perubahan yang signifikan di setiap pertambahan umurnya,

Sayangnya justru di situlah letak menggelitiknya. Bayangkan yang ulang tahun adalah Republik Indonesia, yang memiliki jumlah penduduk menurut BPS 2007, sekitar 234,693,997 orang, dengan jumlah pulau menurut deplu 17.504, dengan kata lain dapat dibayangkan kira-kira betapa kaya dan banyaknya subjek yang seharusnya terlibat dan merasakan kegembiraan ini. Tetapi sayang di tengah kekayaannya tersebut subjek ini sebetulnya telah lama kehilangan esensi penting dari hari ulang tahunnya. Bahkan perayaanya mungkin hanya sekadar peringatan tahunan tanpa makna.

HUT RI jika diibaratkan Ibu yang sedang berulang tahun, maka peringatan HUT RI ini seperti gambaran miris tentang ketidakpedulian anak-anak bangsa terhadap ibunya. Bagaimana tidak, sudah 65 tahun kita merayakan HUT RI tetapi selama itu pula kita tidak memerhatikan apa yang diharapkan oleh negeri ini. Bagaimana kelangsungan RI atau hal apa yang perlu kita renovasi sebagai bentuk kecintaan kita pada ibu pertiwi. Bahkan untuk hal kecil sekalipun.

Misalnya, sampai sekarang penulisan kalimat "HUT RI ke-65 " masih belum juga diralat baik secara individu di lingkungan masyarakat maupun diralat langsung oleh yang empunya kuasa. Seperti, ahli bahasa atau Bapak presiden sebagai anak yang punya power memperbaiki penulisan tersebut sebagai bentuk sadar berbahasa Indonesia.

Selain itu, sekarang ini sekolah-sekolah sedang demam bilingual. Semua KBM diharapkan menggunakan bahasa asing dengan tujuan sebagai bentuk apresiasi persiapan sekolah berstandar internasional. Hasilnya guru ditraining untuk berbahasa asing, siswa disodorkan pengajaran dengan pengantar bahasa asing, diadakanlah demam kelas bilingual yang berbahasa asing dengan pengantar bahasa Inggris. Sehingga tanpa sadar kita melakukan pengikisan rasa nasionalisme hampir di setiap lini kehidupan kita. Imbasnya generasi muda kita lebih tanggap bahasa asing, sekaligus antiberbahasa Indonesia, karena lebih keren jika mereka berbahasa asing.

Kata-kata yang bijak dari presiden pertama kita mengatakan"Bangsa yang besar adalah bangsa yang dapat menghargai budayanya sendiri" seakan menjadi penegas yang menunjukkan mengapa negeri kita tidak "besar-besar".

Negara kita yang dulunya dianggap sebagai macan asia justru semakin kehilangan keperkasaannya. Meskipun tetap memang kita tidak bisa menutup mata terhadap prestasi anak-anak negeri kita yang memenangkan sejumlah olimpiade di negara luar, tetapi tetap kita telah mengalami kemunduran. Kemunduran rasa nasionalisme, kemunduran semangat untuk menjaga budaya-budaya baik yang kita miliki, kemunduran untuk membangun negeri sendiri.

Banyak generasi muda yang berpotensi justru memilih untuk tinggal di negara lain daripada membangun negeri ini. Hal itu tidak salah dengan gaji besar dan masa depan menjanjikan hal itu sah-sah saja.

Kalau bukan kita yang membangun negeri ini siapa lagi? Bukankah kita tidak dapat meminta orang asing untuk membangun negeri kita. Lucunya banyak orang asing yang mulai mencintai negeri ini seperi acara " belajar Indonesia" . Tetapi sebaik-baiknya anak tiri memerhatikan ibunya tentu akan lebih beda jika anak kandung sendiri yang memerhatikan ibunya.


Jangan lupa sejauh apapun burung terbang dia tetap tahu dan selalu ingin pulang ke sarang.


Minggu, 02 Mei 2010

How to Train Your Dragon

How to Train Your Dragon adalah novel karya Cressida Cowell yang sudah di angkat ke layar lebar. Hal yang menarik dari novel ini adalah menceritakan bagaimana seorang anak kepala suku diharapkan mampu memburu dan membantai naga yang selalu membuat kerusakan tetapi sayang alih-alih membantai nanga anak tersebut melakukan pendekatan yang berbeda untuk menaklukkan naga yang paling ditakuti dalam cerita tersebut. Sayangnya dalam tulisan kali ini bukan cerita menarik ini yang ingin dibicarakan. sebab ada puluhan resensi telah bicara banyak tentang cerita dan film ini. Judul dari novel inilah yang rasanya perlu dikutip.

How to train your dragon yang ada di dalamdiri manusialah yang perlu dibicarakan. Berbicara tentang naga di jaman seperti ini rasanya memang agak irasional. Naga adalah binatang buas yang dikenal mirip dengan "ular" atau dikatakan ular. Hanya dalam cerita-cerita mitos khususnya untuk masyarakat Cina, naga merupakan lambang kemakmuran. orang yang lahir pada tahun itu dianggap akan mendapatkan banyak keuntungan.

sayangnya istilah naga juga dapat bermakna sesuatu yang buruk jika itu diasumsikan dengan sesuatu yang ganas dan sulit dikendalikan di dalam diri manusia.

bagaimana seseorang akan mengatakan tidak pada korupsi jika dia sendiri tidak dapat mengendalikan naga yang bersemayam di dalam hati dan pikirannya.

manusia yang terlahir sebagai simbol atas kebaikan dan keburukan bertanggung jawab penuh untuk dapat mengendalikan pikiran dan perasaannya di mana pun ia berada dan sebagai apapun ia berperan. Misalnya, seorang atasan dalam kondisi apapun harus dapat mengendalikan pikirannya dalam batasan baik dan benar, dalam tataran layak atau tidak bahkan dalam timbangan adil dan tidak serta dalam ranah moral sekalipun.

Mengapa kalimat " How to train your dragon" ini perlu dibahas? jawabannya sepenting kasus-kasus yang bermunculan di masyarakat. Mulai dari kasus ringan hingga berat. Mulai dari artis, politikus, bahkan rakyat kecil pun memiliki "naga" di dalam dirinya yang belum dapat dikendalikan. Misalnya, kasus keluarga yang berakhir di meja hijau, maraknya kasus perceraian, pembunuhan dan pemerkosaan. Sri Mulyani mengundurkan diri, seorang bapak mengajari anaknya mencuri, seorang ibu merencanakan pembunuhan dengan kedua anaknya yang masih belia untuk menghabisi nyawa nenek kedua putranya.

Atau kasus-kasus korupsi ala partai yang sedang marak terjadi. Sepertinya kita baru membangunkan naga yang lama tertidur diselimuti ketidakmampuan, jadi ketika kekuasaan itu ada di tangan kita, mata menjadi kabur dan gelap. segelap masa depan para pejabat pemangku amanat rakyat yang kabur dibawa kabar kabur yang dikaburkan oleh para wakil rakyat kita yang punya visi misi yang ngawur... he...