HUT ke-65 RI tinggal beberapa hari lagi. Di beberapa tempat terlihat orang-orang dihinggapi demam HUT RI. Perayaan kemerdekaan RI telah menjadi salah satu moment untuk ajang jualan yang lumayan menguntungkan bagi seorang pedagang bendera. Banyak penjual bendera mulai menjajakan bendera merah putih. Selain itu, di beberapa RT/ RW bahkan sudah mulai memasang spanduk dan slogan-slogan yang menuliskan selamat HUT RI yang ke- 65 tanpa memedulikan kesalahan penulisan tersebut yang seharusnya selamat HUT ke-65 RI.
Semuanya berjalan seperti biasa. Seperti perayaan HUT RI pada umumnya. Disambut, dirayakan, kemudian akan berlalu dengan sendirinya. Tak berbekas dan tak menimbulkan perbedaan sedikit pun setiap tahunnya.
Perayaan itu telah menjadi sebuah moment kebiasaan yang tak bernyawa. Maklumlah yang ulang tahun bukan orang. Yang ulang tahun bukan Siti Jubaidah atau Ujang atau Alexander atau Elisabeth yang punya hati dan punya mimpi tentang perayaan ulang tahunnya. Kalau yang merayakannya adalah person to person mungkin akan berbeda karena "orang" pasti memiliki harapan dan makna tersendiri untuk setiap ulang tahunnya. Tak ada orang yang merayakan ulang tahunnya tanpa keinginan untuk ada perubahan yang signifikan di setiap pertambahan umurnya,
Sayangnya justru di situlah letak menggelitiknya. Bayangkan yang ulang tahun adalah Republik Indonesia, yang memiliki jumlah penduduk menurut BPS 2007, sekitar 234,693,997 orang, dengan jumlah pulau menurut deplu 17.504, dengan kata lain dapat dibayangkan kira-kira betapa kaya dan banyaknya subjek yang seharusnya terlibat dan merasakan kegembiraan ini. Tetapi sayang di tengah kekayaannya tersebut subjek ini sebetulnya telah lama kehilangan esensi penting dari hari ulang tahunnya. Bahkan perayaanya mungkin hanya sekadar peringatan tahunan tanpa makna.
HUT RI jika diibaratkan Ibu yang sedang berulang tahun, maka peringatan HUT RI ini seperti gambaran miris tentang ketidakpedulian anak-anak bangsa terhadap ibunya. Bagaimana tidak, sudah 65 tahun kita merayakan HUT RI tetapi selama itu pula kita tidak memerhatikan apa yang diharapkan oleh negeri ini. Bagaimana kelangsungan RI atau hal apa yang perlu kita renovasi sebagai bentuk kecintaan kita pada ibu pertiwi. Bahkan untuk hal kecil sekalipun.
Misalnya, sampai sekarang penulisan kalimat "HUT RI ke-65 " masih belum juga diralat baik secara individu di lingkungan masyarakat maupun diralat langsung oleh yang empunya kuasa. Seperti, ahli bahasa atau Bapak presiden sebagai anak yang punya power memperbaiki penulisan tersebut sebagai bentuk sadar berbahasa Indonesia.
Selain itu, sekarang ini sekolah-sekolah sedang demam bilingual. Semua KBM diharapkan menggunakan bahasa asing dengan tujuan sebagai bentuk apresiasi persiapan sekolah berstandar internasional. Hasilnya guru ditraining untuk berbahasa asing, siswa disodorkan pengajaran dengan pengantar bahasa asing, diadakanlah demam kelas bilingual yang berbahasa asing dengan pengantar bahasa Inggris. Sehingga tanpa sadar kita melakukan pengikisan rasa nasionalisme hampir di setiap lini kehidupan kita. Imbasnya generasi muda kita lebih tanggap bahasa asing, sekaligus antiberbahasa Indonesia, karena lebih keren jika mereka berbahasa asing.
Kata-kata yang bijak dari presiden pertama kita mengatakan"Bangsa yang besar adalah bangsa yang dapat menghargai budayanya sendiri" seakan menjadi penegas yang menunjukkan mengapa negeri kita tidak "besar-besar".
Negara kita yang dulunya dianggap sebagai macan asia justru semakin kehilangan keperkasaannya. Meskipun tetap memang kita tidak bisa menutup mata terhadap prestasi anak-anak negeri kita yang memenangkan sejumlah olimpiade di negara luar, tetapi tetap kita telah mengalami kemunduran. Kemunduran rasa nasionalisme, kemunduran semangat untuk menjaga budaya-budaya baik yang kita miliki, kemunduran untuk membangun negeri sendiri.
Banyak generasi muda yang berpotensi justru memilih untuk tinggal di negara lain daripada membangun negeri ini. Hal itu tidak salah dengan gaji besar dan masa depan menjanjikan hal itu sah-sah saja.
Kalau bukan kita yang membangun negeri ini siapa lagi? Bukankah kita tidak dapat meminta orang asing untuk membangun negeri kita. Lucunya banyak orang asing yang mulai mencintai negeri ini seperi acara " belajar Indonesia" . Tetapi sebaik-baiknya anak tiri memerhatikan ibunya tentu akan lebih beda jika anak kandung sendiri yang memerhatikan ibunya.
Jangan lupa sejauh apapun burung terbang dia tetap tahu dan selalu ingin pulang ke sarang.
Semuanya berjalan seperti biasa. Seperti perayaan HUT RI pada umumnya. Disambut, dirayakan, kemudian akan berlalu dengan sendirinya. Tak berbekas dan tak menimbulkan perbedaan sedikit pun setiap tahunnya.
Perayaan itu telah menjadi sebuah moment kebiasaan yang tak bernyawa. Maklumlah yang ulang tahun bukan orang. Yang ulang tahun bukan Siti Jubaidah atau Ujang atau Alexander atau Elisabeth yang punya hati dan punya mimpi tentang perayaan ulang tahunnya. Kalau yang merayakannya adalah person to person mungkin akan berbeda karena "orang" pasti memiliki harapan dan makna tersendiri untuk setiap ulang tahunnya. Tak ada orang yang merayakan ulang tahunnya tanpa keinginan untuk ada perubahan yang signifikan di setiap pertambahan umurnya,
Sayangnya justru di situlah letak menggelitiknya. Bayangkan yang ulang tahun adalah Republik Indonesia, yang memiliki jumlah penduduk menurut BPS 2007, sekitar 234,693,997 orang, dengan jumlah pulau menurut deplu 17.504, dengan kata lain dapat dibayangkan kira-kira betapa kaya dan banyaknya subjek yang seharusnya terlibat dan merasakan kegembiraan ini. Tetapi sayang di tengah kekayaannya tersebut subjek ini sebetulnya telah lama kehilangan esensi penting dari hari ulang tahunnya. Bahkan perayaanya mungkin hanya sekadar peringatan tahunan tanpa makna.
HUT RI jika diibaratkan Ibu yang sedang berulang tahun, maka peringatan HUT RI ini seperti gambaran miris tentang ketidakpedulian anak-anak bangsa terhadap ibunya. Bagaimana tidak, sudah 65 tahun kita merayakan HUT RI tetapi selama itu pula kita tidak memerhatikan apa yang diharapkan oleh negeri ini. Bagaimana kelangsungan RI atau hal apa yang perlu kita renovasi sebagai bentuk kecintaan kita pada ibu pertiwi. Bahkan untuk hal kecil sekalipun.
Misalnya, sampai sekarang penulisan kalimat "HUT RI ke-65 " masih belum juga diralat baik secara individu di lingkungan masyarakat maupun diralat langsung oleh yang empunya kuasa. Seperti, ahli bahasa atau Bapak presiden sebagai anak yang punya power memperbaiki penulisan tersebut sebagai bentuk sadar berbahasa Indonesia.
Selain itu, sekarang ini sekolah-sekolah sedang demam bilingual. Semua KBM diharapkan menggunakan bahasa asing dengan tujuan sebagai bentuk apresiasi persiapan sekolah berstandar internasional. Hasilnya guru ditraining untuk berbahasa asing, siswa disodorkan pengajaran dengan pengantar bahasa asing, diadakanlah demam kelas bilingual yang berbahasa asing dengan pengantar bahasa Inggris. Sehingga tanpa sadar kita melakukan pengikisan rasa nasionalisme hampir di setiap lini kehidupan kita. Imbasnya generasi muda kita lebih tanggap bahasa asing, sekaligus antiberbahasa Indonesia, karena lebih keren jika mereka berbahasa asing.
Kata-kata yang bijak dari presiden pertama kita mengatakan"Bangsa yang besar adalah bangsa yang dapat menghargai budayanya sendiri" seakan menjadi penegas yang menunjukkan mengapa negeri kita tidak "besar-besar".
Negara kita yang dulunya dianggap sebagai macan asia justru semakin kehilangan keperkasaannya. Meskipun tetap memang kita tidak bisa menutup mata terhadap prestasi anak-anak negeri kita yang memenangkan sejumlah olimpiade di negara luar, tetapi tetap kita telah mengalami kemunduran. Kemunduran rasa nasionalisme, kemunduran semangat untuk menjaga budaya-budaya baik yang kita miliki, kemunduran untuk membangun negeri sendiri.
Banyak generasi muda yang berpotensi justru memilih untuk tinggal di negara lain daripada membangun negeri ini. Hal itu tidak salah dengan gaji besar dan masa depan menjanjikan hal itu sah-sah saja.
Kalau bukan kita yang membangun negeri ini siapa lagi? Bukankah kita tidak dapat meminta orang asing untuk membangun negeri kita. Lucunya banyak orang asing yang mulai mencintai negeri ini seperi acara " belajar Indonesia" . Tetapi sebaik-baiknya anak tiri memerhatikan ibunya tentu akan lebih beda jika anak kandung sendiri yang memerhatikan ibunya.
Jangan lupa sejauh apapun burung terbang dia tetap tahu dan selalu ingin pulang ke sarang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar