How to Train Your Dragon
How to Train Your Dragon adalah novel karya Cressida Cowell yang sudah di angkat ke layar lebar. Hal yang menarik dari novel ini adalah menceritakan bagaimana seorang anak kepala suku diharapkan mampu memburu dan membantai naga yang selalu membuat kerusakan tetapi sayang alih-alih membantai nanga anak tersebut melakukan pendekatan yang berbeda untuk menaklukkan naga yang paling ditakuti dalam cerita tersebut. Sayangnya dalam tulisan kali ini bukan cerita menarik ini yang ingin dibicarakan. sebab ada puluhan resensi telah bicara banyak tentang cerita dan film ini. Judul dari novel inilah yang rasanya perlu dikutip.
How to train your dragon yang ada di dalamdiri manusialah yang perlu dibicarakan. Berbicara tentang naga di jaman seperti ini rasanya memang agak irasional. Naga adalah binatang buas yang dikenal mirip dengan "ular" atau dikatakan ular. Hanya dalam cerita-cerita mitos khususnya untuk masyarakat Cina, naga merupakan lambang kemakmuran. orang yang lahir pada tahun itu dianggap akan mendapatkan banyak keuntungan.
sayangnya istilah naga juga dapat bermakna sesuatu yang buruk jika itu diasumsikan dengan sesuatu yang ganas dan sulit dikendalikan di dalam diri manusia.
bagaimana seseorang akan mengatakan tidak pada korupsi jika dia sendiri tidak dapat mengendalikan naga yang bersemayam di dalam hati dan pikirannya.
manusia yang terlahir sebagai simbol atas kebaikan dan keburukan bertanggung jawab penuh untuk dapat mengendalikan pikiran dan perasaannya di mana pun ia berada dan sebagai apapun ia berperan. Misalnya, seorang atasan dalam kondisi apapun harus dapat mengendalikan pikirannya dalam batasan baik dan benar, dalam tataran layak atau tidak bahkan dalam timbangan adil dan tidak serta dalam ranah moral sekalipun.
Mengapa kalimat " How to train your dragon" ini perlu dibahas? jawabannya sepenting kasus-kasus yang bermunculan di masyarakat. Mulai dari kasus ringan hingga berat. Mulai dari artis, politikus, bahkan rakyat kecil pun memiliki "naga" di dalam dirinya yang belum dapat dikendalikan. Misalnya, kasus keluarga yang berakhir di meja hijau, maraknya kasus perceraian, pembunuhan dan pemerkosaan. Sri Mulyani mengundurkan diri, seorang bapak mengajari anaknya mencuri, seorang ibu merencanakan pembunuhan dengan kedua anaknya yang masih belia untuk menghabisi nyawa nenek kedua putranya.
Atau kasus-kasus korupsi ala partai yang sedang marak terjadi. Sepertinya kita baru membangunkan naga yang lama tertidur diselimuti ketidakmampuan, jadi ketika kekuasaan itu ada di tangan kita, mata menjadi kabur dan gelap. segelap masa depan para pejabat pemangku amanat rakyat yang kabur dibawa kabar kabur yang dikaburkan oleh para wakil rakyat kita yang punya visi misi yang ngawur... he...
How to train your dragon yang ada di dalamdiri manusialah yang perlu dibicarakan. Berbicara tentang naga di jaman seperti ini rasanya memang agak irasional. Naga adalah binatang buas yang dikenal mirip dengan "ular" atau dikatakan ular. Hanya dalam cerita-cerita mitos khususnya untuk masyarakat Cina, naga merupakan lambang kemakmuran. orang yang lahir pada tahun itu dianggap akan mendapatkan banyak keuntungan.
sayangnya istilah naga juga dapat bermakna sesuatu yang buruk jika itu diasumsikan dengan sesuatu yang ganas dan sulit dikendalikan di dalam diri manusia.
bagaimana seseorang akan mengatakan tidak pada korupsi jika dia sendiri tidak dapat mengendalikan naga yang bersemayam di dalam hati dan pikirannya.
manusia yang terlahir sebagai simbol atas kebaikan dan keburukan bertanggung jawab penuh untuk dapat mengendalikan pikiran dan perasaannya di mana pun ia berada dan sebagai apapun ia berperan. Misalnya, seorang atasan dalam kondisi apapun harus dapat mengendalikan pikirannya dalam batasan baik dan benar, dalam tataran layak atau tidak bahkan dalam timbangan adil dan tidak serta dalam ranah moral sekalipun.
Mengapa kalimat " How to train your dragon" ini perlu dibahas? jawabannya sepenting kasus-kasus yang bermunculan di masyarakat. Mulai dari kasus ringan hingga berat. Mulai dari artis, politikus, bahkan rakyat kecil pun memiliki "naga" di dalam dirinya yang belum dapat dikendalikan. Misalnya, kasus keluarga yang berakhir di meja hijau, maraknya kasus perceraian, pembunuhan dan pemerkosaan. Sri Mulyani mengundurkan diri, seorang bapak mengajari anaknya mencuri, seorang ibu merencanakan pembunuhan dengan kedua anaknya yang masih belia untuk menghabisi nyawa nenek kedua putranya.
Atau kasus-kasus korupsi ala partai yang sedang marak terjadi. Sepertinya kita baru membangunkan naga yang lama tertidur diselimuti ketidakmampuan, jadi ketika kekuasaan itu ada di tangan kita, mata menjadi kabur dan gelap. segelap masa depan para pejabat pemangku amanat rakyat yang kabur dibawa kabar kabur yang dikaburkan oleh para wakil rakyat kita yang punya visi misi yang ngawur... he...