Pernah satu kali
sekoper mata tertutup dalam kuali
dihimpit mega-mega sudut pandang
dalam wawasan sempit si anak malang
Lalu
anak mengayun waktu pada gelutan sudut
terkepal tangannya kosong dalam garis tangan terlipat
ada sesak menyinggung sesal
semua kerja tak dipandang
semua cita tak berujung cinta
tunduk ia pada kuasa si sombong yang bengis
malam datang menudungi sekoper mata
siang menjadi kelam dalam pandang si anak
jatuh duduk dalam lipatan tangan di dada
dua kuasa bertukar tanya
dua pikiran berjawab di sana
anak pergi membuka pintu
dalam pikirnya kali ini kunci ada pada-Nya
kembali menggaris mimpi pada lengan yang kuat
di atas waktu yang berpacu lagi berharap
di batas senja ia bermimpi
sekoper mata tertutup dalam kuali
dihimpit mega-mega sudut pandang
dalam wawasan sempit si anak malang
Lalu
anak mengayun waktu pada gelutan sudut
terkepal tangannya kosong dalam garis tangan terlipat
ada sesak menyinggung sesal
semua kerja tak dipandang
semua cita tak berujung cinta
tunduk ia pada kuasa si sombong yang bengis
malam datang menudungi sekoper mata
siang menjadi kelam dalam pandang si anak
jatuh duduk dalam lipatan tangan di dada
dua kuasa bertukar tanya
dua pikiran berjawab di sana
anak pergi membuka pintu
dalam pikirnya kali ini kunci ada pada-Nya
kembali menggaris mimpi pada lengan yang kuat
di atas waktu yang berpacu lagi berharap
di batas senja ia bermimpi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar